Friday, March 31, 2017

Via Ferrata, Climb With Style Part-4 : Going Down, Tips & Lesson Learned

Panjat Tebing Via Ferrata Part-4 : Going Down, Tips & Lesson Learned.


Going Down Part-1
Tidak seperti panjat tebing ke atas yang menggunakan tangga besi, untuk turun dari tebing, kami harus menggunakan metode rappelling, yaitu menuruni tebing dengan bergelayutan dengan tali saja. Tetep pake harness sih, tapi tidak ada bantuan tangga besi seperti pas naik, melainkan tali di kontrol oleh guide nya dari atas, dan kita tinggal bergelayutan sampe bawah. Semacam system ngambil air di sumur pake timba, tali nya di ulur sampe bawah, begitu tiba di bawah, talinya ditarik lagi. Jadi kedua tangan berpegangan di tali, kaki menapak ke dinding, sementara bahu dilempar ke belakang supaya badan menjadi ringan untuk turun. Kedengeran nya gampang banget yah? Tapi pas prakteknyaaa, eeeeehhmmmm…ya gitu deh!


Saya mengambil urutan no 2 setelah Ami karena mau liat cara dia turun dulu. Tapi begitu dia turun, dia langsung meluncur ke bawah. Tau2 dia sudah menghilang dari peredaran. Cepet banget prosesnya.

Tau2 udah giliran saya turun ajah. Wadoooww. Kang AJo mengikatkan harness, lanyard dan carabiner ke tali dan dengan berpegangan tali rappling, saya turun secara perlahan. Kedua kaki saya menjadi melayang di udara, tapi bisa dipijakkan ke dinding untuk membantu menopang tubuh ketika turun. Kecepatan turun nya luar biasa untuk ukuran kami yang tadi naik secara perlahan dengan tangga besi. Sempet deg2an lagi, takut kalu mendadak talinya putus, jatoh dan mati. Tapi lagi2 pasrah sama situasi dan kondisi. I mean, kalau mati, ya matilah, pikir saya (sedikit) stress. Berusaha menikmati, tapi boong banget kalau enggak nahan napas selama turun. Untuk sekitar 50 meter di bawah, saya melihat mas Bondan, guide yang satu lagi sudah menunggu di goa ke empat alias transit. Jadi enggak bisa langsung turun ke dasar, tapi transit dulu di ketinggian 50 meteran dari atas.

Untuk bisa tiba ke goa ke empat ini, harus agak berjuang karena goa tersebut agak menjorok ke dalam, tidak ada space untuk pijakan kaki sama sekali sehingga kaki kita bergelantungan selama beberapa saat, dan untuk dapat turun ke goa nya, tangan kita harus menyambar dan memegang tangan orang lain yang sudah duluan di goa tersebut agar kita bisa berdiri di goa dengan selamat. Tiba di goa transit pertama yang tempatnya tidak terlalu besar tersebut, mas bondan membantu saya melepas tali rappelling pertama, sehingga kang Ajo bisa menarik tali tersebut untuk urutan berikutnya turun.  Di goa tersebut sudah ada Ami yang siap2 melakukan rappelling turun untuk kedua kalinya hingga tiba ke dasar tebing. Ketika tali, harness dan lanyard sudah dipasangkan, Ami pun turun ke bawah.




Going Down Part-2

Tiba-tiba ada trouble shooting. Tali yang membawa Ami turun ke bawah ternyata tidak cukup panjang, sehingga Ami stuck di ketinggian sekitar 50 meter dari dasar permukaan tanah dikarenakan talinya tidak cukup panjang untuk mencapai bawah. Dia teriak2 tapi kami hanya bisa mendengarkan teriakan Ami secara samar2 saja, tanpa tau ada masalah apa. Untungnya mas bondan merasakan ada kendala dibawah sana. Sementara saya dan mas Bondan sibuk memikirikan gimana caranya supaya Ami bisa turun ke bawah, tiba2 Amica muncul dari atas dan siap2 mendarat di goa transit rappelling ini. Setibanya Amica di goa transit, saya dan Amica segera membantu mas Bondan untuk melepaskan simpul tali (yang sudah terlanjur di ikat mati) hingga tali rappelling bisa dipanjangkan lebih panjang lagi hingga dasar. Tapi tidak semudah itu. Tangan kami yang tidak menggunakan sarung tangan terasa sangat sakit menarik tali supaya simpul lepas dan tali menjadi longgar. Kami terus mencoba menarik tali simpul dan menghabiskan waktu selama sekitar 15 menit sehingga akhirnya tali pun lepas dan Ami bisa melanjutkan perjalanan turunnya. Tangan saya berasa kebakar karena menarik tali yang tegang, apalagi tangan nya mas bondan yang mencoba membuka simpul mati tadi, bengkak2 booo. Tapi demi keselamatan bersama, ya sudahla yaaa. 

Setibanya Ami di bawah, dia menyentakkan tali secara kencang untuk memberikan kode bahwa tali sudah bisa di tarik, kembali saya mengeluarkan tenaga untuk menarik tali ke atas. Eh ternyata berat juga tali yang panjangnya 150 meter itu.  Begitu talinya sampai atas, harusnya saya duluan yang turun ke bawah, tapi karena sebelumnya ada masalah tali ini, saya kehilangan nyali. Enggak kebayang kalau saya turun  nanti, tali saya juga ada potensi bermasalah. Digantungin hubungan aja udah pait, apalagi digantungin enggak jelas di tebing tanpa kepastian. Sereeeemm ! Akhirnya Amica memutuskan untuk turun duluan dan ketika dia turun tanpa kendala, barulah saya berani turun ke bawah dari ketinggian 100 meter tersebut.

Mas bondan kemudian mengikatkan tubuh saya ke tali rapelling dan saya pun mulai meluncur turun. Turun bagian kedua lebih menegangkan daripada yang pertama, karena hujan mulai turun rintik2 sehingga dinding tebing menjadi licin ketika basah. Untungnya saya pakai tas kedap air alias water proof bag, sehingga tidak perlu khawatir tas saya yang berisikan kamera, handphone dompet etc etc akan basah. Akan tetapi beberapa teman mengalami kendala di ransel karena tas/ransel mereka tidak kedap air sehingga khawatir barang2 dalam ransel nya basah.

Turun bagian kedua itu jauh lebih cepat temponya sehingga ada suatu titik dimana saya tidak bisa mengontrol tubuh saya yang meluncur cepat kebawah sementara kaki tidak bisa menapak ke dinding, sehingga akhirnya badan saya berputar2 terbaik ke depan, membelakangi dinding, terbalik lagi ke belakang menghadap dinding selama dua kali dan kaki juga dengkul saya terbentur tebing lumayan keras. Aaawwww !!!  saya pun berteriak kencang, minta agar tali diperlambat. Tapi kayaknya yang di atas enggak bisa denger saya, tali tetap turun dengan sedikit kencang, jadi saya sendirilah akhirnya yg harus mengontrol kecepatan, dengan cara memaksakan menancapkan kaki saya ke tebing beberapa kali untuk berhenti sejenak sebelum akhirnya terus meluncur ke bawah. Turun ke dasar sih masih sekitar 50 meter lagi, tapi kok rasanya lamaaaa bangeeeettt nyampe di tanah. Segala macam ayat2 suci saya bacakan supaya saya tetap tenang. Tapi perasaan takut itu tetap aja ada. Jantung berdebar2 dengan keras, kaki sedikit gemeteran.

Sekitar 10 meter sebelum mencapai bawah, saya mendengarkan teriakan Amica : “terus Dee, dikit lagi Dee, aman Dee, jangan takut, nanti gue sambut badan loe Dee”. Sayapun menengok ke bawah dan menjadi tenang karena saya melihat jarak tanah tidak jauh lagi,  dan penampakan Amica membuat saya tenang. Tiba di tanah, saya mengucapkan syukur alhamdulillah, saya dibantu Amica untuk melepaskan tali rappelling, menyentakkan tali dengan keras sebagai kode bahwa saya sudah sampai di bawah dan tali sudah bisa ditarik ke atas untuk dipakai turun oleh peserta berikutnya. Saya duduk dengan kaki di luruskan, dan bersama Amica, kami menanti semua rombongan kloter pertama turun.
031.
032.

Going Down Part-3.

Rombongan kloter kami turun dari sekitar jam 4 sore dan tiba di bawa sekitar jam 6 sore, akan tetapi rombongan kloter kedua belum sampai di bawah. Hujan makin deras dan dari bawah terdengar Kang Ajo teriak2 kencang, rupanya tali rappelling nya stuck, terlilit di besi sehinga peserta tidak bisa turun. Dan bairpun sudah berkali2 dia teriak terdengar keras di bawah, akan tetapi tampaknya tidak terdengar oleh mas Bondan yang ada di goa bagian tengah sehingga kami sampai stress melihat pemandangan Ana yang sedang tergantung di tebing, sementara talinya masih stuck di besi, tidak bisa jalan. Ada kali, sekitar 15 menit ketika akhirnya suara Ajo bisa di dengar, tali di hentakkan sedemikian rupa sehingga tali rappeling terlepas dari besi dan peserta bisa melanjutkan perjalanan turun nya. Rombongan kedua lebih mengalami aderenalin lagi, karena mereka turun dalam keadaan hujan, licin da cuaca yang sudah menjadi gelap, sehingga perjuangan mereka dua kali daripada kami yang sudah lebih dahulu turun dan tiba di bawah.  Ketika mereka semua tiba di bawah pada pukul 07.30malam, beberapa teman tampak pucat, bilang kapok hingga komat kamit mengucap syukur kepada Tuhan YME karena berhasil turun dengan selamat.

We were tired and exhausted, apalagi para pemandu nya. Pasti lebih capek lagi daripada kami. So we decided to collect some tips for the guide, instructor and a bit of tips also for the driver.



 
 

Kalau ditanya, apakah saya kapok untuk ikutan kegiatan ini lagi? Yes, I am! Nggak mau ikut lagiii, karena menurut saya, panjat tebing ala Via Ferrata itu levelnya bukan basic, tapi advace atau intermediate. Beneran. Suwerrrr.  Tapi begitu udah istirahat, dan begitu di ajak Ela untuk ikut lagi kapan2 dengan ketinggian lebih tinggi lagi, 300 meter dan camping di atas gunung, instead of saying no, I was spontaneously says “Yuuukkkss, siapa takut!”. Because fears is temporary, but life time experience is permanent!

Jadiiiiii siapa yang mau ikutan kami untuk memanjat tebing dan menginap di atas Gunung Parang, tunjuk tangaaannn !!!


Notes, tips and Lesson learned : 

Kegiatan ini bisa di ikuti oleh siapa saja, biarpun kalau kamu belum pernah melakukan kegiatan panjat tebing sama sekali. Tapiiiii, baca dulu hal2 di bawah ini ya :

  1. Pastikan bahwa kondisi kesehatan dalam keadaan prima, JANGAN dalam keadaan tidak sehat, lahir dan bathin, apalagi kalau abis putus cinta.
  2. Pastikan bahwa kamu tidak punya phobia atau rasa ketakutan terhadap ketinggian, karena phobia ketinggian tidak bisa berada di ketinggian manapun.
  3. Sebelum berangkat, minum vitamin atau neurobion, vitamin kesehatan supaya tidak masuk angin setelah ber angin2 seharian.
  4. Be on time. Jangan biarkan kebudayaan telat menempel sebagai budaya Indonesia. Kalau rumah jauh, cobalah untuk berangkat lebih pagi lagi.
  5. Kalau kaki panjang dan suka mabok, duduk di depan.
  6. Kalau suka mabok di jalan, bawa dan minum antimo, obat anti mabuk.
  7. Kalau nggak kuat dingin, kenakan pakaian lengan panjang dengan celana panjang, kalau perlu pake jacket dan bawa selimut tipis biar badan hangat di mobil.
  8. Jangan lupa bawa pakaian ganti setelah kegiatan (bisa mandi juga disana).
  9. Kalau bisa dan biasa baca selama di perjalanan, disarankan untuk bawa buku/majalah/novel untuk dibaca di jalan.
  10. Kalau dikira ibu-ibu, enggak boleh marah boooo, apalagi kalau tampang mu emang kayak ibu-ibu
  11. Kalau mau tidur di mobil, jangan lupa bawa bantal tidur (travel pillow) biar enggak pegel bobo nya
  12. Bawa ransel yang yang pas di badan, jangan yang kegedean, nanti repot kalau ranselnya merosot turun terus.
  13. Ranselnya kalau bisa gunakanlah yang water proof (kedap air), sehingga kalau hujan, barang2 kita enggak basah
  14. Bawa botol minuman yang cukup besar, jadi tidak kehabisan air minum selama di perjalanan.
  15. Pakailah celana cargo atau celana panjang yang ada kantongnya untuk taro hape atau kamera go pro ala2, biar dapet banyak photo2 cakep. Celana panjang juga melindungi kaki kita dari beset alias memar kalau terbentur dinding.
  16. Selain menggunakan peralatan via ferrata dan sepatu olahraga, sangat disarankan untuk menggunakan sarung tangan panjat tebing supaya tangan tidak lecet ketika memanjat tebing atau turn dari tebing.
  17. Kalau bisa pakai pengaman lutut. Itu looh, yang suka dipake anak2 yang maen skate board untuk melindungi lutut supaya kalau jatuh tidak kena kaki atau tulang langsung. Apa ya itu namanya ?
  18. Bawa trombopo supaya kalau tangan lecet atau memar bisa diobati segera.
  19. Bawa senter kepala alias senter kecil yang bisa dikenakan di kepala sehingga kalau kamu kebetulan dapet giliran turun sore ke malam, masih bisa dibantu dengan cahaya lampu senter.
  20. Sebaiknya untuk ukuran 15 peserta, pemandu disediakan 3, jadi kalau 1 pemandu memegang 7 orang, yang 1 pemandu lagi pegang 8 orang, 1 pemandu bisa bantu apabila ada masalah seperti yang kami alami.
  21. Kalau pake alis, pake pinsil alis yang water proff, bair enggak luntur kalau hujan. Penting !
  22. Bawa snack atau makanan ringan yang banyak karena akan selalu kelaparan di jalan karena dingin atau lelah.
  23. Kalau mau ikutan kami di next trip, kabar2i ya booo
.....The End...

Via Ferrata, Climb With Style Part-3 : The Climbing

Panjat Tebing Via Ferrata Part-3 : The Climbing


 The climbing Part-1.

Kegiatan memanjat ini dimulai dengan Kang Ajo yang memimpin di depan, di ikuti oleh Amica yang paling atas, lalu Ami dan saya di urutan ketiga. Kenapa segitu napsunya pengen duluan? Udah enggak sabar gilaaaaa ! hahaha. Pas tiba giliran saya, saya perhatikan tebingnya sekali lagi. Dindingnya kering, tidak licin, tingkat kemiringan  90 derajat dan lurus ke atas. Perfecto! 
5 langkah pertama lumayan agak sulit, karena belum banyak tambang besi nya, jadi untuk bisa naik ke tebingnya, selain harus menginjak ke tebing dengan menggunakan tangga besi, kami harus menggunakan tali sejenis kanvas untuk berpijak, dan jarak satu besi ke besi lainnya masih agak renggang dan jauh. Di awal tanjakan ini sedikit kesulitan bergerak dan harus extra hati2 juga pelaaaann sekali langkahnya. Tapi setelah melewati tahap ini dan menginjak tangga besi berikutnya, gerakan memanjat ini menjadi jauh lebih mudah karena jarak dari satu tangga ke tangga besi berikut nya lumayan dekat.








Di beberapa meter pertama, saya masih menggunakan cara pertama yaitu mengaitkan satu carabiner ke tangga besi dan satu carabiner ke tali tambang baja. Tapi lama2 pegel karena setiap kali mau naik satu tangga, saya ahrus manual mindahin carabiner satu persatu ke atas. Kemudian saya mulai mengguakan cara kedua, kedua carabiner saya kaitkan ke tambang baja, sehingga saya tidak perlu sibuk memindahkan kaitan setiap kali mau naik. Ah, cara ini memudahkan dan menghemat waktu dan tenaga saya.
Kloter pertama yaitu Amica, Ami, saya, Ela, Vita dan Ado sudah sampe di suatu ketinggian sekitar 30 meter ketika kang Ajo meminta kami semua untuk beristirahat. Saya pun mengakitkan kedua carabiner saya dan balik badan menyenderkan punggung ke belakang dan melihat horizontal pemandangan kebawah dari atas, mendadak saya panik, aaaaarrrgggggghh…30 meter itu kalau mendatar tidak terasa jauh, kenapa ketika 30meter dengan tingkat kemirinan 90 derajat mendadak menjadi tinggi sekaliiiiiii ? saya susah napas, mendadak pusing dan berkunang2. Amica, Ami dan Ela dan Ado kayaknya tenang2 aja, tapi si Vita doooong,   mulai teriak2 berisik “takut, takut, takuuuuutttt !!!”  Untung jarak saya dan Vita dipisahkan oleh Ela, sehingga Vita enggak jadi saya toyor kepalanya. Bikin tambah panik aja!









Biarpun saya juga agak takut, tapi kami semua termasuk saya berusaha menenangkan Vita. Kami menyemangati dia untuk tetap melanjutkan perjalanan. Karena sayang aja, udah capek2 dan jauh2 6 jam kesini, kok nyerah? Akhirnya Vita menjadi lebih tenang. Di titik ini, kang AJo mulai mendokumentasikan kami satu persatu di ketinggian ini. Dia meminta kami pose dengan melepaskan kedua belah tangan. Yeah rite,  tidak satupun dari kami yang berani lepas tangan. Udah gila kali ya ini Ajo, pikir saya. Berusaha keliatan enggak takut di photo aja udah bagus banget, ini lagi suruh lepas tangan. Enggak liat apa ya dia, kaki kita udah pada gemeteran gini? Mikirin maish ada sekitar 120 meter lagi yang akan di panjat membuat saya menjadi lemas. Apalagi sempet kepikiran, ini besi yang di cor dan ditancapkan ke tebing apa udah save ya? Apakah dia bisa menyangga tubuh kita yang berat ini?  Nggak bakalan copot kan ya? Etc etc. Tapi obsesi untuk mendapatkan photo bagus di ketinggian dan tingkat kenarsisan yang tinggi mengalahkan rasa ketakutan dan malah membuat saya semangat kembali untuk memanjat. Setelah cukup istirahat, minum dan photo2 awal, kami pun melanjutkan perjalananan.


 



The climbing Part-2

Panjat tebing ini dilanjutkan ke ketinggian berikutnya. Makin lama makin percaya diri dan lebih lincah. Kecepatan memanjat menjadi lebih advance, jadi lebih cepat dan badan serasa lebih ringan. Tau2 nya udah di ketinggian 100meter aja. Cieeeehhh gueeeee. 
Kami istirahat di sebuah goa kecil dan di spot ini, kang Ajo turun, katanya mau membantu 1 peserta dari Bandung yang bermasalah dengan tasnya, rupanya tas dia kegedean, sehinga setiap kali dia manjat, ranselnya kedodoran dan hampir lepas melulu dari badannya.
Sekarang gantian mas Bondan yang menemani kami mulai mengambil photo2 kami. Disini kami juga diminta untuk photo dengan lepas tangan, tapi kali ini ada tambahan masukan yang diberikan oleh sang guide sekaligus instructor. Dia bilang “tenang aja, lepasin aja tangan nya, kalian harus percaya kepada alat dan kepada kami”, akhirnya kata2 itu lah yang membuat saya akhirnya pasrah. Dengan berserah diri sepenuhnya kepada Sang Pencipta (when it’s time for you to die, you will die no matter how and why), percaya 100 persen sama alat dan pemandu, akhirnya pelan2 saya melepaskan tangan. Tapi enggak segampang itu juga sih. 
Pertama2 masih pegangan kencang ke harness nya, kemudian mencoba melepaskan satu tangan, kedua tangan, eh begitu dua tangan ini lepas, secara spontan dua tangan ini memeluk harness erat2 lagi. Takut boooo…!!! easier said than done. Coba lagi satu tangan lepas, sekitar beberapa menit kemudian,AKHIRNYA kedua tangan ini bisa lepas juga. Tapi pas di photo, muka keliatan jelek banget, keliatan banget enggak rilexnya dan tampak amat sangat ketakutan. Enggak ada keren2nya sama sekali, hahahha. Coba lagi berkali2 hingga nyali terkumpul, akhirnya bisa photo lepas tangan dalam keadaan (terlihat) santai. Eh makin lama makin ngelunjak, malah kecentilan sampe bikin pemandu nya (kayaknya) eneg liat kelakuan eikeh, haha.


Setelah puas photo2, kami duduk di goa pertama, isitrahat disana sambil tunggu teman2 lain pada naik ke atas dan tiba di spot kami.  Sampe disini haus banget. Saya minum banyak sekali, istirahat sekalian mengembalikan tenaga yang sudah mulai lelah.

The climbing Part-3.

Rombongan kloter kedua belum terlihat, sementara rombongan kloter pertama lanjut naik lagi ke ketinggian yang lebih atas lagi, tapi kali ini rutenya mulai asal, suka suka tebingnya aja. Enggak cuma lurus ke atas, tapi miring2 ke kanan ke kiri enggak jelas. 



Jadi selain menanjak ke atas, kami juga harus memepetkan diri karena tangga besinya bergeser dari ke atas menuju ke samping, ke kanan bawah, naik, turun lagi, dan sekarang baru berasa jadi cicak2 di dinding. Tentu saja saya kali ini tidak berani melihat ke bawah. Kapok. 






Kami terus bergeser ke samping hingga mas Bondan nya bilang bahwa kami sudah tiba di ketinggian 150 meter dan bisa ber istirahat di goa kedua sambil menunggu seluruh anggota rombongan tiba. Di goa tersebut kami photo2 dengan berbagai gaya, nah, di ketinggian 150 meter inilah, akhirnya saya menjadi lebih relax dan sudah berani melepaskan kedua tangan tanpa beban untuk dapetin photo yang bagus.






Apalagi melihat gayanya kang Ajo yang lincah motretin kita dengan gaya nya dia yang lebay pamer2 jungkir balik kesana kemari dengan ringan nya, lepas tangan dengan bebasnya - yang akhirnya menambah kepercayaan diri saya. Saya sempet mikir, jangan2 Kang Ajo itu sebenernya  Spiderman yang lagi nyamar. Tapi begitu liat hidungnya Kang Ajo yang pesek, saya yakin dia bukan Spiderman.


Seluruh anggota rombongan tiba, kami bergeser ke goa berikutnya, hingga ke goa ketiga atau terakhir dimana goa tersebut merupakan lokasi finishing atau persiapan rappelling turun ke bawah. Disini saya meneguk minuman terakhir. Idih, air abis ! waduh, gimana iniii ? Beginilah resiko enggak mau bawa botol gede, jadi sampai di atas, airnya habis. Jangan ditiru ya teman temaaaan..daripada kalian nanti dehidrasi! Untungnya udara mulai mendung, tidak terasa panas nya, jadi tidak terlalu terasa hausnya. 

Di lokasi goa ketiga ini seru banget. Selain lokasi ini merupakan lokasi puncak alias lokasi paling tinggi via ferrata untuk pilihan biaya segitu, selain duduk2 santai, kami bisa photo2 narsis DAN LANGSUNG UPLOAD, karena DI PUNCAK GUNUNG PARANG ADA AKSES INTERNET !!! Vita yang paling berisik tereak2 dan sering mewek2 manja aja mendadak langsung lupa sama takutnya karena dia langsung  posting photo andalan di semua social media (facebook, instagram, path, you name it) kalau dia lagi di puncak gunung parang. Semua dunia harus tau! Ih Norak! *padahal sumpah mati saya iri karena nggak ada hape atau kamera. Ini gegara celana selutut saya kantongnya sempit dan enggak muat untuk taro hape saya yang segede batako itu, jadi saya harus menitipkan hape sama ke guide nya. Akhirnya nyesel banget deh enggak bisa photo2 narsis dan upload photo pake hape sendiri. Yes, penyesalan emang selalu datang belakangan, kalau di awal, namanya pendaftaran, ya kaaaann ?












Via Ferrata, Climb With Style Part-2 : The Preparation



Panjat Tebing Via Ferrata Part-2 : The Preparation.


2 tahun berlalu, hingga minggu lalu saya mendapat ajakan lagi, kali ini dari Maya Halim, pentolan nya My Trip organizer yang kebetulan punya jadwal trip untuk kegiatan Via Ferrata pada hari Sabtu, 18 Maret 2017. Yesss, akhirnya, pikir saya senang. Dengan biaya Rp 350,000/orang termasuk safety equipment, guide, instructor, documentation, makan 1x, transportasi dari dan ke Jakarta, kita udah bisa mengikuti kegiatan ini. Tidak ada minimum peserta, pasti berangkat. So saya segera mendaftarkan diri. Saya juga mengajak teman2 untuk ikut, dan dua teman saya, Ela dan Ervita ikut juga. Sebenarnya sih berangkat sendirian juga enggak masalah, tapi emang lebih asik dan seru lagi kalau ada teman nya.

Sebelum berangkat, kami mendapatkan informasi dari maya mengenai apa saja yang harus dibawa:
-      Pakaian manjat bebas, pakaian olahraga boleh, usahakan yang warnanya cerah
-      Sepatu lari/sepatu sport atau sandal gunung
-      Tas day pack kecil untuk bawa makanan ringan dan air mineral, sebaiknya water proof bag
-      Kamera, Handphone (dan tongsis kalau ada)
-      Sun block
-      Lotion anti nyamuk
-      Pakaian ganti

Kumpulnya hari Sabtu jam 06.00 pagi, lokasinya sih masih sama lokasi dengan 2 tahun yg lalu, di Dunkin Donut’s Plaza Semanggi.

Sabtu tanggal 18 Maret, saya bangun jam 04.30 pagi, masak nasi goreng untuk dibawa, shalat subuh dan mandi. Hah? Masak2 subuh2? Iyess, saya emang mansuia yang tdak bisa hidup tanpa nasi. I mean, hidup tanpa laki masih bisa tahan (biarpun banyak dramanya). Tapi hidup tanpa nasi  ternyata masih belum bisa. Nyoba hidup sehat dengan metode Keto aja nyerah, belum sanggup sayah.

Tadinya pengen pake celana pendek, biar nanti nggak usah pake ganti baju lagi di lokasi. Tapi kok dingin banget ya ? Akhirnya saya memutuskan untuk pake celana panjang dan bawa selimut biar nanti enggak kedinginan di jalan. Ternyata cuaca nya enggak “manula friendly”. Blaaahh.

Daaaan, subuh saya dimulai dengan drama, di saat Uber yang saya pesan jam 05.00 subuh enggak bisa masuk komplek karena di depan komplek sedang berlangsung pekerjaan road construction MRT di depan terminal Lebak Bulus, so saya harus jalan kaki ke depan komplek sejauh 500m. Jalan kaki nya sih enggak apa2 ya, tapi saat itu hujan rintik2 dan saya takut hujan nya bertambah deras sementara jarak ke mobil yang parkir depan komplek masih sekitar 300 m lagi. Saya malas mengeluarjkan jas hujan, karena gerimisnya gerimis tanggung. Lama lama hujan nya makin deras dan saya harus berlari nyamperin transportasi online saya, naik ke mobil dan mobil langsung berangkat ke TKP.  Beuuuhh, subuh2 udah keringetan. Nggak apa2, yang penting alis enggak luntur karena pake pensil alis yang “water proof”.

Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 05.20 menit, deg2an juga karena sepanjang jalan hujan rintik2 yang menyebabkan beberapa titik jalan sedikit meluap airnya sehingga jalanan agak tersendat. Mudah2an enggak terlambat, pikir saya.

Setibanya di TKP pukul 05.50 pagi, ternyata Dunkin Donut’s nya udah bangkut, nggak ada orang sama sekali ditempat bekas restaurant Dunkin Donuts. Saya mulai halu dna mulai ragu, ini bener acara nya hari Sabtu 18 Maret kan ya? Cemas takut salah tanggal.
Ternyata para pesertanya pindah ngumpul di tempat taksi ngetem dan udah banyak yang dating. pheeewww.  Maya dan dua teman saya Ela dan Vita juga sudah tiba. Pukul 06.00 tepat kami sudah bisa masuk mobil. Sayangnya, biarpun kami datang lebih awal daripada yang lain, bangku pertama sudah di book oleh beberapa peserta lain dikarenakan mereka tidak bisa duduk di belakang, takut mabuk katanya, so akhirnya kami mengalah dan duduk paling belakang. Mobil elf nya elf standard untuk kapasitas 15 orang, akan tetapi rasanya ini mobil lebih kecil daripada elf yang biasa saya naiki, karena tempat duduknya sempit2 banget. Kami aja yang kakinya enggak terlalu panjang duduknya harus melipat kaki, apalagi yang kakinya panjang2, jadi harus ganti gaya duduk berkali2 supaya enggak pegel.

Jam 06.30, mobil belum berangkat juga sementara hujan tambah deras. Saya tanya sama Bondan, salah satu guidenya, dia bilang masih tunggu beberapa peserta lagi baru bisa berangkat, panitia hanya bisa menunggu sampai jam 07.00 pagi, apabila pesertanya enggak datang jam segitu, mau ditinggal katanya. Oh well, saya hanya bisa “mencoba” bersabar. Begitulah kalau pergi sama orang Indonesia kebanyakan, suka pada jam karet. I mean, kalau perginya enggak keluar kota sih enggak apa, tapi kalau ke luar kota, waktu itu sangat berharga. Apalagi dengan kondisi perbaikan jalan dimana2. tambah lagi hujan yang menyebabkan potensi terjadinya genangan air, so 5 or 15 minutes time does make difference. Tapi ini kan acara santai ya, nggak usah komplen deh Dee, enjoy aja, toh mau piknik dan jalan2 ini. Saya pun merubah mind set dan menjadi lebih relax. Anyway, jam 06.45 pagi akhirnya semua peserta sudah ada di dalam minibus elf dan kamipun berangkat. Untung mobil AC nya dingin sehingga saya masih bisa tertidur biarpun beberapa kali bangun karena pegel, hehe.  

Mobil kami berhenti di rest area KM 39 dan disana berkenalan dengan beberapa teman baru, Ana, Amica, Ami, Yeni dan Anggi. Rupanya Anggi mengikuti acara ini dengan keluarganya yaitu suami, anak dan adik2. Salah satu peserta menanyakan, apakah ibu2 macam kami sering megikuti kegiatan seperti ini. ((((( Ibu Ibu !!! ))))). Rasanya saat itu juga saya ingin ngaca di toilet sambil teriak kenceng2 : DO I LOOK LIKE IBU-IBU TO YOU? Abis itu saya dan Ervita ketawa ngakak. Ketawa pait, lebih tepatnya. Usia emang enggak bisa boong ya. Biarpun udah dandan alay bin ABG, That wrinkle and freckles don’t lie.tetep aja keliatan tuanya. Ami jadi merasa feeling guilty abis manggil kita ibu-ibu, yang kemudian dia ganti jadi mbak-mbak, hahaha.

Sekitar 15 menit istirahat dan ke toilet, kamipun melanjutkan perjalanan kembali.  Sekitar pukul 10.30 siang, kami berhenti di alfamart dekat lokasi. Selain ke kamar kecil, peserta membeli berbagai snack termasuk jas hujan (bagi yang tidak bawa) untuk melindungi diri dari hujan. Kemudian kami melanjutkan perjalanan. Karena tempat duduknya sempit, kami semua beberapa kali berganti gaya selama di perjalanan, pegel2 boooo. Untung saya bawa bantal tidur, sehingga tidurnya sedikit lebih nyaman dengan menggunakan travel pillow yang berisi pasir tersebut.

Saya lapar sekali, tapi tadi emang sengaja tidak sarapan pagi dulu karena saya ini anaknya beseran, bawaan nya mau pipis melulu, dan kalau sarapan pagi dulu, takut kepancing kebelet pup. Kan repot kalau misalnya sakit perut dan tidak/belum bisa berhenti di jalan. Tapi karena sudah agak siang dan katanya sebentar lagi kami akan tiba di lokasi, so saya yang kelaperan buka bekel, makan nasi goreng yang tadi pagi masak dan bawa sendiri dari rumah. Kenyang dan tenang deh perut udah terisi makanan. 30 menit kemudian, kami belum juga sampai, sehingga saya memutuskan untuk tidur lagi. Kami tiba di TKP sekitar  pukul 12.45 siang. Jadi total perjalanan memakan waktu hampir 6 jam dikarenakan di perjalanan menuju Purwakarta melewati beberapa ruas jalan yang sedang dalam perbaikan yang menyebabkan macet berkepanjangan.



Tiba di lokasi, saya terpesona. Tempat berkumpul yang dulunya hanya rumah sederhana dengan toilet ala kadarnya (toilet yang tidak ada dinding atau atap dengan air kumuh), sekarang sudah berubah menjadi base camp yang bagus. Skywalker sudah mempunyai satu lahan yang lumayan luas, dimana di lahan rumput yang bersih tersebut tersedia dua tenda putih berisi meja dan bangku plus kursi buat kongkow, satu meja bambu panjang untuk tempat makan, dua hammock, camping ground untuk camping di bawah beserta satu space yang diberi terpal untuk shalat. And oh, ada 4 buah kamar mandi, 2 yang pakai shower dan 2 WC duduk yang airnya bersih sekali. 1 ruangan dibikin untuk storage atau gudang penyimpanan dimana kita bisa meletakkan tas2 atau barang2 yang tidak mau dibawa ke atas. Dan sudah ada 1 warung yang dikelola oleh pasangan suami istri penduduk lokal yang memasak makan siang kami yang juga menjual indomie telor rawit beserta gorengan, teh, kopi dan air kelapa muda. Pokoknya, beda dengan 2 tahun sebelumnya, base camp Skywalker ini sekarang jadi bagus, bersih dan nyaman banget! Satu lagi, latar belakang base camp nya adalah gunung parang yang akan kami panjat, hutan dan sawah hijau yang sooooo #instragramable!








Beberapa dari kami segera berganti baju dengan baju yang akan dipakai untuk manjat, yang lainnya shalat dzuhur dulu, selebihnya langsung pada makan siang. Kami makan siang dengan nasi hangat, ikan teri, tahu tempe dan sayur singkong rebus dan lalapan. Sambelnya juara, enak banget! Makan siangnya sederhana, tapi karena cuaca nya mendukung, angin semilir sejuk, saya yang tadinya males makan karena sebelumnya udah kenyang makan nasi goreng akhirnya makan lagi dengan lahap, hahaha.


Setelah selesai makan dan semua peserta udah ke toilet, udah pada pake sun block untuk melindungi kulit dari sengatan matahari, maka kamipun bersiap2 untuk memulai kegiatan.

Hujan tadi pagi sudah selesai, matahari bersinar dengan cerahnya. Beberapa peserta (termasuk saya) berphoto2 di starting point alias di base camp dengan latar belakang gunung Parang, Gunung yang akan kami naiki. Oh ya, di rombongan kami yang 15 orang ini, ada 1 anak yang berusia 8 tahun bernama Sava, anaknya Anggi yang rupanya sudah sering di ajak oleh ayah bunda nya melakukan kegiatan di alam bebas. Tapi saya baru tau bahwa ternyata kegiatan Via Ferrata ini bisa dan boleh dilakukan oleh anak dari usia 5 tahun hingga 70 tahun, dengan catatan kondisi kesehatan dalam keadaan prima. Hebat ini Sava, saya bangga dan terharu liat dia excited untuk ikut kegiatan ini, sampe saya minta photo bareng dia! Haha

Peralatan Via Ferrata.

Selesai photo2, kami semua diminta untuk menggunakan peralatan manjat yang terdiri dari helm dan harness. Helm nya helm keras standard via ferrata yang tahan banting, sementara harness nya berupa tali dengan lanyard satu paket dengan dua carabiner. Carabiner adalah salah satu alat yang berfungsi untuk mengaitkan tali ke hanger, tali ke tali, tali ke harnes dan sebagainya. Dalam dunia panjat, fungsi utama dari carabiner adalah sebagai alat untuk menjaga keamanan si pemanjat, dapat juga di fungsikan untuk mempermudah pekerjaan yang berhubungan dengan kait mengait. Harness dengan lanyard dan carabiner ini dikenakan ke badan, di dikencangkan erat2 supaya ketat dibadan, sehingga tingkat keamanan nya terjaga. Kami semua mulai dipasangkan harness dan memakai helm untuk manjat.







Ketatnya sih nyaman ya, dipakenya di badan, tapi lemak di badannya itu looohhh, karena harness nya bikin baju jadi ketat, mendadak lemak dan perut buncit muncul dimana2, tak sedap di pandang mata. Saya, Ela dan Vita langsung dooong, saling mengingatkan - bahwa nanti kalau di photo di atas, untuk tidak lupa menahan napas atau tahan perut biar perut keliatan rata, hahaha. Sepatu sport atau sneaker atau sandal gunung sudah pada dikenakan. Baju udah matching warnanya sama sepatu sportnya. Alis dan lip gloss pink dove juga udah di pake. Apaaaaaa? Pake alis dan lip gloss? yess, biarpun pun panjat tebing, tapi sini kan flashpacker ya, traveler with style. Anaknya juga kebanyakan gaya, jadi biarpun kegiatan nya out door, boleh dooonng, tetep keliatan cantik di photo. 

The briefing

Anyway, setelah photo keluarga, semua peserta berbaris berjalan melalui sawah kayak anak bebek yang digiring ke kandang. 



Sepanjang jalan pemandangan nya menawan, pemandangan sawah yang hampir di panen ini menyegarkan mata yang sehari2 biasa melihat gedung2 tinggi dan traffic yang macet dimana2. Saya suka sekali sama rumput di tanah yang habis disiram hujan, seger. Biarpun tanah nya sedikit becek habis hujan, tapi untungnya jalan tanah yang dulu licin, sekarang sudah ada undakan tangga nya, sehingga tidak terlalu licin ketika hujan/habis hujan. Kami melewati hutan bambu yang jalan nya menanjak, sehinga sedikit ter engah2 naiknya. Dua atlet lari Ela dan Vita aja sampe ngos2an trekkingnya, apalagi saya, manusia pemalas yang tidak hobby olah raga. Sekitar 10meter kemudian, kamipun tiba di bawah kaki gunung Parang. 








Saya iseng nengok ke atas, eyaolooooooo…. Kalau yang biasa panjat tebing mah, mungkin ini macam tebing maenan doang, karena tingginya cuma 150 meter ajah. Tapi bagi saya yang enggak pernah panjat tebing beneran, e buset dot com, tinggi ajaaahhh…!












Disana kami berkenalan dengan instruktur dan pemandu kami, namanya Ajo dan Bondan. Mereka memberikan briefing dan teory bagaimana caranya memanjat dengan menggunakan harness ini yang baik dan benar. Saya sedikit engak konsen dengerin briefingnya. Nyamuknya itu looohhh, banyak dan gede2 bangeeeetttt. Ganassssss ! Semuanya menyerang kami sampai akhirnya salah satu peserta yang bernama Yeni dengan baik hatinya memberikan kami lotion anti nyamuk yang kami oleskan ke seluruh badan. Akhirnya saya mengerti kenapa lotion nyamuk ini masuk dalam list barang2 yang harus dibawa, rupanya karena mosquito attack di lokasi ini.




Dari briefing yang diberikan, saya bisa simpulkan dua cara memanjatnya sebagai berikut :

Cara pertama : satu carabiner dikaitkan ke tangga besi dan satu carabiner ke tambang baja. jadi setiap kali mau naik tangga besi, carabiner yang di tangga besi dipindahkan ke atasnya.

Cara kedua : kedua carabiner dikaitkan ke kawat baja yang melintang sepanjang jalur manjat, dengan posisi tangan kiri kita memegang tangga besi, sementara tangan kanan kita berada dibawah lanyard carabiner sehingga ketika kita manjat, lanyard dan carabinernya juga ikut terseret naik ke atas. Kawat baja nya ada pembatas nya, jadi setiap kali carabinernya tiba di ujung pembatas kawat baja, carabiner nya di pindahkan satu persatu ke pembatas berikutnya, dan cara tersebut dilakukan terus menerus selama memanjat tebing. Apabila di tengah perjalanan kita lelah dan ingin beristirahat, maka salah satu carabiner di kaitkan ke tangga besi, dan satu lagi tetap dikaitkan ke kawat baja, maka kita bisa bersender ke dinding, duduk di atas tangga besi atai bergantungan di tangga besi dengan lanyard yang akan melindungi tubuh supaya tidak terjatuh karena carabiner sudah terkait di tangga besi. 

Setelah memberikan teori, Kang Ajo berbaju ijo yang mungil tapi gesit dan lincah mempraktek-kan teori yang baru saja dia ajarkan dan voila! tampak sangat mudah, sungguh! Saya menjadi semangat dan enggak sabar untuk manjat. Lalu kang Ajo memimpin doa dan kamipun berdoa sesuai dengan agama masing2.  Doa selesai, we’re ready to climb the cliff !


Via Ferrata, Climb With Style Part-1: Introduction



Via Ferrata.

What the hell is via ferrata? Ketika diajakin ikutan Via Ferrata sama geng travel addict di tahun 2015, saya enggak tau sama sekali apa itu via ferrata. Pokoknya siapapun yang ngajakin jalan2, kalau saya lagi mood dan imut, selama jadwal enggak bentrokan dengan business trip kantor atau trip jalan2 lainnya, dan selama lagi ada duit, kenapa tidak? Jadi ketika diajak, saya langsung browsing and whoaaaaaa, ternyata panjat tebing boooo! Keren banget. Saya udah pernah Sky Diving dan Bungy Jumping, tapi belum pernah Rock Climbing alias Panjat Tebing. I mean, kalau panjat tebing ala2 di acara2 team building kantor yang tingginya cuma 2 meter doang mah, udah sering, tapi panjat tebing beneran di gunung beneran, ya belum pernah.  

Then again, apa sih sebenernya Via Ferrata itu ?

Via Ferrata itu adalah kegiatan panjat tebing dengan menaiki tangga besi yang di cor dan di tancapkan ke tebing dan berpegangan dengan kawat baja yang di ikatkan sepanjang jalur memanjat, yang juga dilengkapi dengan alat pengaman khusus yang dipandu oleh pemanjat tebing professional. 

Di Indonesia operator yang baru mengadakan kegiatan ber licence ini rasanya baru Sky Walker, yang di miliki oleh seorang penggiat panjat tebing yang bernama Muhammad Rubini Kertapati, atau biasa dipanggil dengan nama Bibin.

Jadi, 2 tahun yang lalu, saya dan teman2 mendaftar buat ikutan kegiatan ini. Sayangnya, 1 hari sebelum keberangkatan, saya terjatuh dari motor yang menyebabkan lutut saya cedera dan memar2. Saya langsung panggil tukang urut dan sore nya kaki saya sudah tidak sakit lagi, sudah bisa berjalan seperti biasa. Pada hari keberangkatan ke esokkan harinya, kami semua berkumpul di Dunkin Donuts Plaza Semanggi, tempat starting point, kemudian berangkat pada sekitar pukul 6 pagi. Perjalanan memakan waktu sekitar 3 jam plus 2x break dan tiba di TKP sekitar jam 10.00 pagi.

Kami berkumpul di base camp, sebuah rumah sederhana disebelah area parkiran, dan setelah cukup istirahat, kami menggunakan peralatan manjat, berjalan kaki sekitar 20m menuju lokasi starting point dibawah kaki gunung Parang. Disana kami dikasih briefing bagaimana caranya panjat tebing yang baik dan benar dengan menggunakan tali mengaman.

Setelah berdoa, satu persatu peserta mulai memanjat hingga tiba giliran saya naik. Semua alat sudah dikencangkan, akan tetapi, ketika kaki saya ditekuk, sakit dan ngilunya luar biasa. Tapi karena saya tetep ngotot pengen naik, so saya tetap membulatkan tekad untuk manjat. Sampai 5 tangga ke atas, saya berhenti. Sakitnya tak tertahankan. Ternyata bekas jatuh dari motor kemaren masih meninggalkan rasa sakit yang baru dirasakan apabila kaki di tekuk/di lipat. Akhirnya saya menyerah, turun kembali dan tidak jadi memanjat karena saya tau dengan kondisi kaki cedera seperti ini, memaksakan diri memanjat hanya akan menyusahkan diri sendiri dan orang lain nantinya. Jadi sementara teman2 satu geng melanjutkan kegiatan panjat tebing ini, saya hanya bisa pasrah menunggu di base camp dalam kebosanan. Saya memaksakan diri untuk tidur, dan baru dibangunkan saat teman2 sudah pada selesai sekitar jam 2 siang. Makan siang bersama yang disediakan oleh penyelenggara, kemudian kami pun pulang ke Jakarta dan tiba di Jakarta sekitar jam 9 malam. Sedih nya tak tertahankan, udah bayar mahal, travel jauh kesana, hanya untuk duduk manis dan iri hati saja melihat photo teman2 yang dipamerkan ke group. Hiks...


...to be continued to the next page...