Saturday, November 11, 2017

Backpacking ke TAKABONERATE Sulawesi Selatan



Intro

Bermula dari seorang sahabat lama, sebut saja dia Tommy aka Bojan aka kambiang, yang baru ketemu lagi di beberapa bulan yang lalu. Saya enggak tau sejak kapan Bojan doyan traveling secara dari waktu kita muda dulu ya (iyess gue pernah muda, shut up Don! Haha), di saat saya lagi gila2 nya ngetrip (yang bisa bikin trip sendiri atau ikut trip orang lain setiap minggu), si Bojan ini malah lagi sibuk party dan mabuk-mabukan. 

But the world changed and people changed. Saat ketemu lagi setelah ratusan tahun tak bertemu, Bojan yang bukan hanya udah menjadi lelaki sholeh dan rajin shalat, dia juga jadi doyan traveling dan langsung ngajak saya ikutan trip komunitas dia, #backpackerjakarta alias BPJ untuk ngetrip ke Labengi, Sulawesi Tenggara. 

I was not really interested that time. Pertama, saya dalam keadaan stress dengan kerjaan, dan enggak mood untuk kemana-mana atau ngapa-ngapain. Kedua, dengan mood jelek seperti itu, saya terlalu malas untuk kenalan sama orang baru. I mean, you have to basa basi with new people (yang belum tentu cocok berteman atau jadi teman perjalanan). Ketiga, I thought that I am way too old to do backpacking trips. I mean, di usia-usia uzur sekarang, saya lebih milih traveling nyaman yang pake AC, makan enak dan enggak pake capek. Tapi Bojan meracuni saya dengan photo-photo destinasi yang akan kita tuju, and before I knew it, I registered myself to join Labengki trip. To my surprise, I truly enjoyed the 5 days backpacking trip with anak-anak BPJ with Daeng Rafli and Aga as CP alias Contact Person, that’s how they called Pimpinan Rombongan Perjalanan. 

In Labengki trip, we visited many beautiful – unforgettable place, had a great time, met many wonderful new friends seperti Nita, Mbak Beb and Mas Beb, Ernest and Fia, Mak Gem, Ilyas and many more. Dari trip Labengki tersebut, beberapa dari kami alumni Labengki ikut ke trip BPJ berikutnya, Takabonerate.

Takabonerate adalah salah satu destinasi wisata yang sudah saya incar sejak lama. Tapi karena satu dan lain hal, saya gagal berangkat dengan teman-teman satu geng saya. Tapi emang dasar rejeki jomblo soleha ya, ketika ada tawaran lagi kesana, harganya reasonable (baca:murah), cuti di approve boss, langsugn dooonng, saya mendaftarkan diri untuk ikut. Untuk trip Takabonerate tanggal 19-24 September 2017 ini, saya hanya perlu mengajukan cuti 1 hari aja, hari Rabu tanggal 20 September 2017 karena sisanya adalah tanggal merah alias hari libur. Yaaayyy !

Senin, 18 September 2017.

Di kantor pagi-pagi baru sadar, bahwa saya akan berangkat liburan ke Takabonerate besok malam, dan saya sama sekali belom packing. Jadi seharian di kantor udah enggak fokus kerja, sampe rumah langsung buru-buru packing dan bingung sendiri, bawa apa aja sih? Ini lah contoh buruk traveler takabur. Saking seringnya traveling, jadi suka last minute packing. Padahal last minute packing itu nggak bagus, karena pasti adaaaaa aja barang yang ketinggalan.

Day 1 : Selasa 19 Sep 2017, departure Jakarta – Makassar.

Untuk menuju Takabonerate, kami harus membeli tiket ke Makassar tanggal 19 Sep malam, untuk lanjut ke Selayar dengan tiket tambahan pada ke esokkan harinya hari Kamis 20 Sep 2017.
Pesawat yang terbang dari Makasar ke Selayar hanya berangkat 1x sehari, jam 08.55 pagi, sedangkan dari Selayar ke Makassar juga 1x terbang setiap harinya, jam 09.55 pagi dan hanya bisa menggunakan maskapai Wings, anak perusahaan Lion Airlines.

So pada tanggal 19 September 2017, kami berkumpul di bandara Soekarno Hatta pada sekitar pukul 21.00 malam. Sambil tunggu teman-teman lain datang, saya makan malam di Solaria, dan kemudian satu peserta yang namanya Bayu datang yang disusul oleh mbak Tati yang juga baru kenal di trip ini. tak lama kemudian Nita, travel mate dan room mate saya yang sudah kenal di trip BPJ sebelumnya muncul dan join di Solaria. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam, kami semua check in dan kenalan dengan beberapa teman BPJ yang kebetulan antri di counter check ini. Perjalanan ke Makassar memakan waktu sekitar 2 jam dan sampe di Makassar sekitar pukul 01.00 pagi. 

Rencana awal begitu sampai Makassar, cita-cita kami mau menginap di hotel mevvah (dan gratis) yg sudah di pesan oleh Jemmy, tapi untuk ketemu sama Jemmy nya aja pake acara drama dulu dikarenakan Jemmy sudah duluan masuk ke dalam bandara domestik sementara kami yang baru keluar pintu exit bandara enggak boleh masuk karena ada salah paham antara kami dan petugas bandara nya sampe mas beb turun tangan dengan speak speak Malaikatnya kepada petugas yang membuat kami akhirnya boleh masuk dan saat udah di dalam bandara domestik yang menuju Selayar, waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 02.00 malam.

Karena gagal nginep di hotel fancy, beberapa dari kami memutuskan untuk menunggu waktu pagi sambil tidur di T Lounge, sebuah ruangan VIP yang menyediakan sofa empuk dan makanan “all you can eat-sampe modaaarr” dengan membayar Rp 100,000/orang. Tadinya sih udah mau bayar, tapi ternyata ruangan nya nggak pake AC. Saya curiga mungkin karena nggak banyak orang yang ada di dalem lounge itu pada jam-jam segitu, maka AC nya dimatiin. Dan saya nggak jadi nginep dan tidur disana aja dooonng, males banget bayar cepek cuma buat bikin ketek basah kuyup. 

Akhirnya saya memutuskan untuk tidur sama rombongan BPJ di area yg udah di secure sama CP alias pimpinan rombongan, di area gate 4 dimana puluhan orang pada tidur di kursi atau di atas karpetnya. Bagi saya pribadi, tidur di beberapa bandara luar negri udah biasa, but this is my first time sleeping on local/domestic airport.  

Untung emang udah bawa matras yoga, bantal travel dan selimut tipis. So saya atur posisi dan berusaha memejamkan mata tapi enggak bisa tidur. Kalau udah menjelang subuh, rasanya pendengaran mendadak jadi tajam. Berbagai suara orang ngobrol, batuk, ngorok, channel TV yg nyala, garpu sendok cafe yg jatoh dan banyak bunyi-bunyi tertentu yg hanya bisa ditangkap oleh indra ke 6. Merinding disko. But at the end of the day, my body mind and soul adjusted. I did not really remember what happened next as my CP woke us up in the morning to start washing up and line up for the baggage. Salut sama Daeng Rafli aka @belut004. Sebagai penanggung jawab perjalanan, dia nggak tidur malam itu karena nungguin barang-barang kami, jagain hape-hape kami yg di charge dan menyelimuti kami-kami yg kedinginan dengan hammock hangat. T.O.P B.G.T


Day 2 : Rabu 20 Sep 2017, departure Makassar – Jinato.

Jam 06.00 pagi kami sudah dibangunkan oleh Daeng Rafli dan semuanya langsung menuju ke toilet untuk bebenah. Cuci muka, sikat gigi. Pake lip gloss dikit, benerin poni dan semprot-semprot dikit biar wangi. Yah secara muka pas-pas an, sadar diri dan usaha dikit laaah, supaya keliatan cakepan dan wangian dikit.

Jam 07.00 pagi kami sudah check in basamo, memasukkan semua tas ke dalam bagasi dan cari sarapan dan kopi di area bandara. Sekitar jam 08.30 pagi kami sudah boarding dan CP kami saat itu mulai senewen karena 1 peserta yang bernama Ayiek enggak bisa berangkat ke Selayar karena ada masalah saat check in. selain itu, ada bagasi peserta lain yaitu Ana dan mamanya yang seharusnya dibawa dari Makassar ke Selayar enggak bisa dibawa karena ada kendala internal di Lion nya, sementara rombongan udah harus masuk ke pesawat. Ketika menuju ke pesawat, saya agak kaget. Eh pesawatnya boeing kecil,yang tempat duduknya 2-2, pake baling baling. Eyaoloooo, macam naek pesawat maenan. Sebelum masuk pesawat kami sempet looohh, photo-photo pake spanduk BPJ. Niat banget emang! Haha…Anyhow jam 08.50 pagi pesawat berangkat dari Makassar menuju Selayar.

Kami tiba di bandara udara H. Aroeppala Selayar 1 jam kemudian. Landingnya kasar, macam anek angkot, goyang ke kanan dan ke kiri dengan tajam. Begitu landing, ransel-ransel kami dipindahkan ke sebuah mobil bak, dimana selain CP, saya lihat beberapa peserta pria seperti Bagus, Budhi dan Habibie dengan sigapnya membantu CP menaikkan tas-tas tersebut ke dalam mobil. Dengan mobil sejenis kijang, jam 10.00 pagi kami berangkat  menuju Pelabugan Benteng dan mampir ke sebuah restaurant seafood di pinggir pantai. Nama restaurant nya lupa, tapi ikan bakar dan bumbunya juara, pedes-pedes seger gitu. Saya, Nita, Jemmy dan Habibie satu meja, kami makan dengan lahapnya dan patungan bayar makanan nya. Abis itu dikasih crackers enak yang micin nya juara, yang membuat otak kami yang udah bolot makin tambah bolot.

Departure Selayar – Jinato.

Selesai makan dan shalat, kami masih menunggu salah satu peserta, Ana yang beli baju dulu di toko terdekat karena tas Anna dan mama Ami terbawa di pesawat yang berikutnya ke Makassar. Sekitar jam 12.30 siang kami meneruskan perjalanan ke Jinato dengan menggunakan kapal perahu 3 mesin. Besar kapalnya sedang-sedang aja, dan semua peserta mencari posisi masing-masing yang dibuat se-nyaman mungkin, supaya perjalanan panjang ini enggak terlalu membosankan. Selain peserta BPJ, rupanya bapak Kepala Desa Jinato juga ikut dengan kami.

Karena mesin nya 3, katanya lajunya bisa lebih cepet, diperkirakan 4 jam udah nyamp Pulau Jinato. Karena punggung saya baru cedera dan baru di urut dan masih ngilu, saya minum 2 antimo supaya enggak mabok laut dan enggak ngerasain sakit pungung.  Macam abis di suntik anestesi, begitu minum obat dan kena angin laut, blasssss, saya langsung tidur pulas. Beberapa jam kemudian saya terbangun. Udah jam 5 sore, tapi blom ada tanda-tanda udah nyampe. Ganti gaya, dan lanjut tidur lagi. Bangun-bangun udah gelap gelita. Gelap segelap gelapnya dunia, eggak ada keliatan cahaya apapun kecuali cahaya redup yang ada di kapal kami. Udah sekitar jam 19.00 malam. Tapi kok belom ada tanda-tanda akan sampe juga. Tanya ke Daeng, Daeng juga enggak tau. Mulai lapar dan mulai rusuh. Mulai buka perbekalan dan ngunyah roti. Begitu kenyang, tidur lagi. Sekitar 2 jam kemudian dibangunin, AKHIRNYA pada pukul 21.00 malam waktu setempat, kami tiba di lokasi. Sumpah deh ini badan pegel luar biasa tidur di dek kapal selama sekitar 8 jam aja! Ternyata pemirsa, perahu kami itu sempet nyasar jauuuuuh, sehingga buang waktu selama beberapa jam sebelum si nahkoda diberitahu oleh bapak Kepala Desa bahwa kapal kami hampir saja membawa kami ke Bima! Bukan nya kecewa atau marah, teman-teman BPJ malah bersorak gembira mengingat tadi ada kemungkinan kami malah akan nyasar sampe ke Bima, haha.

Tiba di pelabuhan Jinato kami menurunkan semua barang, tas ransel gede-gede dibawa dengan gerobak motor, sementara yang ringan-ringan dibawa sendiri. Tas saya dibantu bawa oleh Ale, sang CP pengganti yang berbaik hati membantu saya yang cedera di punggung ini. Kami berjalan kaki sekitar 1km menuju ke penginapan. Suasana sunyi senyap. Tidak ada lampu penerangan sama sekali. Kami jalan bergerombol ditengah gelap gulita. Saya yang tadinya jalan paling belakang langsung maju ke tengah. Takut boooo. Tetiba ngeliat kuntilanak gimana?  Mending kalau saya yang teriak liat dia. Nah kalau malah kuntilanak nya yang teriak liat saya gimana? Secara muka dan badan udah busuk kecapean dan kelaparan plus udah tidur selama 8 jam, pasti enggak ada cakep-cakep nya sama sekali. Mungkin karena sudah lelah, rasanya lamaaaaaa banget sampe ke penginapaan. Tapi begitu nyampe penginapan, rasanya mau cium Fadel, salah satu peserta Takabonerate yang cakepnya dunia akhirat- saking senengnya nyampe juga di penginapan.

Rupanya penginapan kami merupakan rumahnya bapak Kepala Desa, rumah panggung yang terbuat dari kayu. Kami memasukan barang-barang ke dalam kamar. 1 kamar berisi banyak orang yang tidur nya sharing bersama. Ada yg tidur di atas kasur, ada yang tergeletak begitu aja di lantai kamar. Saya sekamar dengan mbak beb, mbak Tati, Nita (yang tidur di atas kasur) sementara, Ratu, Windy juga Vinny tergeletak pasrah di lantai.

Selesai meletakkan barang, kami semua makan di rumah pak kepala desa yang ternyata sudah siap saji. Untuk makan, kami membayar lagi Rp 30,000 sekali makan, karena makanan enak ini adalah additional cost atau biaya tambahan yang tidak termasuk di share cost. Menunya banyak, tapi paling banyak menu ikan nya (ya iyalah). Beberapa dari kami yang tidak suka dan tidak makan ikan memilih makan makanan lain yang sudah di pesan sebelumnya ditempat yang sama. Abis makan, sebagian pada mandi di beberapa kamar mandi yang disediakan disana, beberapa lainnya langsung tidur.


Day-4 : Kamis 21 Sep 2017. Pulau Tinabo, Baby Shark dududududu.

Pulau Jinato.

Beberapa teman bangun pagi-pagi sekali untuk mengejar sunrise di Pulau Jinato. Ketika dibangunin pagi-pagi, mungkin sekitar pukul 04.30 pagi, I was like “what?” “What sunrise? Are you guys crazy?” Dan sayapun kembali melanjutkan bobo-bobo cantik saya. Yes, saya bukan pecinta matahari terbit. Saya lebih ke penikmat matahari terbenam. Sekitar jam 08.00 pagi saya bangun, dan melihat tampang-tampang kecewa teman-teman. Ternyata tadi pagi mendung, berawan dan tidak ada matahari, so enggak bisa melihat matahari terbit deh. Kemudian kami sarapan dan bersiap-siap snorkeling.

Snorkeling di sekitar Pulau Jinato biasa aja, karangnya, ikan nya, lautnya, pulaunya, semuanya biasa aja, so saya nggak begitu excited. Tapi karena dasarnya emang seneng laut, fine-fine aja sih. Selesai snorkeling di spot pertama, kami bersiap-siap pindah ke Pulau Tinabo. Sekitar pukul 10.00 pagi kami berangkat ke Pulau Tinabo. 

Departure Jinato – Tinabo.

Perjalanan dari Jinato ke Tinabo memakan waktu sekitar 2 jam. Oh ya, dari Jakarta, kami sudah janjian untuk memakai dress code baju putih-putih dan membawa dua bebek-bebek an yang akan dipake untuk property photo. Backpacker kok centil? Kalau kata Habibi sih, BODO AMAT! Hehe
Tiba di Tinabo, kami semua terpesona dengan beingnya air laut dan birunya langit Tinabo. Cantiiikk, macam gambar gambar yang biasa kami lihat di kalender. Semua peserta sibuk photo-poto selfie dan ketika semua nya udah puas selfie, kami semua photo bersama di dermaga yang ada tulisan “Welcome to Tinabo Island, Takabonerate National Park”. Iyes, Tinabo adalah tujuan utama kami, yang merupakan sebuah pulau dimana di pantainya terdapat banyak ikan hiu yang harmless alias tidak berbahaya. Puas photo-photo di depan dermaga, kami lanjut group photo di pendopo dermaga. Pake baju putih-putih dengan latar belakang air laut yang bening dan langit yang biru emang juara.

The Shark!

Kami berjalan kaki menuju pantai dan tadaaaaaaaa, dari kejauhan, di pinggir pantai tampak para ikan hiu berenang kesana kemari seakan-akan berkata, “hellooowww, welcome to Tinabo, come and swim with us!” 

Saya nggak sabar. saya lari-lari mendekati pantai. But I was not the only one who do so. Yang lainnya juga berlari-lari sambil teriak-teriak norak mendekati pantai, dan semuanya serentak nyebur ke arah pantai.  Byuuurrrrr…dan ikan ikan nya pada lari. Cakeeeeppppp. Lalu mendadak air lautnya bening lagi, tapi tak ada satu ikan hiu pun di sekitar kami. Sedih. Ternyata polusi suara kami yang berisik dan gerakan-gerakan di air yang membuat air menjadi keruh membuat ikan-ikan pada takut dan kabur. Kemudian si bapak penjaga pulaunya mendekati kami dan memberikan informasi bagaimana caranya  supaya ikan-ikan hiu pada mendekat. Tapi untuk sementara waktu kami diminta menjauhi air laut dulu supaya airnya tenang dan ikan-ikan nya mendekat lagi. Akhirnya kami semua bubar dan berpencar. Ada yang memutari pulau dan photo-photo lagi di berbagai spot, ada yg cuma tidur-tiduran di pinggir pantai, ada yg menyeduh nesting dan bikin indomie, saya? Bengong di pinggir laut sambil mikir, sinting ya, hiu aja nolak gue. #sedihlagi

Sekitar 1 jam kemudian, ketika pantai sudah sepi, di bantu oleh si bapak penjaga pantai yang melempar ikan-ikan teri kecil untuk dimakan oleh hiu-hiu tersebut, para hiu pun mulai mendekat dan mengerubungi kami yang berdiri atau berenang disekitar ikan teri yang dilemparkan. 

Kemudian kami mulai merapat lagi ke pantai, dengan suasana yang lebih tenang, mulai satu persatu baris dengan kalem untuk antri sembako…errr, antri di photoin sama Daeng Rafli dengan pose lagi duduk, berdiri atau berenang sama ikan-ikan hiu dengan menggunakan kamera dome nya mas Iwan. Itu looh, kamera canggih yang bisa membuat photo terbagi dua antara darat dan dalam air laut. Makasih ya mas Iwaaaan, photo dengan kamera mu jadi poto andalan kami semua di profile picture facebook! haha

Daeng Rafli memotret kami satu persatu, ke 33 peserta yang hadir dengan sabar. Secara 1 peserta aja minta di photoin dengan hiu pake berbagai gaya, so kebayang doooong, gimana lama nya antri di photoin di dalam laut di tengah teriknya matahari jam 1 siaaaanng?  Sekitar 1 jam kemudian, akhirnya sessi photo dengan ikan-ikan hiu ini selesai, para peserta sudah puas dan bubar melakukan aktifitas bebasnya. Saya lihat Ratudan Mak Gem sudah sibuk nyeret-nyeret balon flamingo raksasa dan ban karetnya ke tengah laut untuk sesi pemotretan, sementara yang lainnya makan siang. Padahal nih ya, dari Jakarta udah janjian mau pada ikut baby shark challenge dan dancing ala-ala baby shark. Tapi begitu sampe sana buyaaarrr blaaasss karena sibuk photo masing-masing, hahaha.

Sementara yang lain nya sibuk meneruskan kegiatan masing-masing, saya masuk lagi ke laut, tapi hanya di pinggir-pinggir pantai aja, SENDIRIAN! Tapi kali ini saya merasa lebih santai, udah enggak senorak dan senapsu tadi lagi. Saya berdiri dan photo selfie pake tongsis dan timer. It's like ...when you think you are ready to swim with hundreds of -unharmed-cute-looking-baby shark-alone, but you hesitated and not sure if they're THAT cute or THAT harmless....haha
Ini ngumpulin nyali mau berenang sama baby shark  sendirian aja agak takut. Saya mulai masuk ke laut. Sok-sok an berani. Those baby sharks start to approaching. Tapi ternyata nyali masih belom ada. Beli nyali dimana si kaaakk ? 

Saya diem dulu. Nggak berani bergerak. Sok tenang dulu. Senyum dulu. Siapa tau kalau disenyumin hiu-hiu nya akan lebih ramah. Atau mungkin sebaiknya diomongin baik-baik dulu kali yak? Siapa tau kalau diajak ngomong baik-baik semuanya akan baik-baik aja. Yekaaaannn ???
Tadinya udah berani ke tengah laut sendirian, tapi pas lama-lama diperhatiin, kok makin lama baby shark nya - not so baby anymore - alias ukuran nya makin besar, eh nyali jadi menciut.... and after about 1 hour playing around in the water, maju mundur cantik, check ombak dan check sikon, I FINALLY DID IT !!! Berenang dengan puluhan ikan hiu !!! No, bukan ikan hiu piaraan macam di penangkaran hiu yang ada di Karimun Jawa, tapi ikan hiu liar yang ada di pantai Pulau Tinabo, Selayar, Sulawesi Selatan yang emak bapak hiunya masih berkeliaran di tengah laut. 

Dari yang awalnya takutnya setengah mati, enggak ada nyali - takut digigit beneran-sampe akhirnya lama lama malah keasikan, kulit keriput gegara kelamaan berenang dan maen sama ikan ikan hiu tersebut. Geli geli gimanaaaa gitu, kaki dan badan kita disundul sundul sama hiu hiu itu. Sampe hampir lupa makan siang dan enggak mau pulaaaaaanng !!! Nggak sia-sia deh, perjuangan darat, laut dan udara berhari hari menuju tempat yang sumpah jauh banget lokasinya dari peradapan ini. It's really worth the hell out it. Indonesia is trully dangerously beautiful !!! Fear is temporary but life time experience is permanent. Tanpa sadar, udah 2 jam saya berjemur dan berenang dibawah teriknya matahari. Muka beruntusan dan merah kayak kepiting rebus dan seluruh badan kebakar. Ini  gegara males pake sunblock. Perih sekali Jendral! 

[so bagi yang kulitnya senstitif kayak kulit saya, jangan sok sok an enggak pake sunblock ya, karena kulit selain cepat gosong, akan terasa perih banget kalau di pegang. Selain sunblock, jangan lupa bawa after sun lotion, biasanya dalam bentuk jel aloe vera untuk mendinginkan muka dan badan yang abis kebakar matahari.]

Anyway sekitar jam 3 sore, kami pindah lokasi, snorkeling di sekitar pulau Tinabo, tapi dua teman kami yaitu Mega dan Maria enggak ikut. Rupanya Mega masih shock dan sedih karena HP nya yang dipinjam oleh Maria kecebur laut, sehingga HP basah kuyup dan enggak berfungsi lagi. Mega kehilangan mood, sementara Maria merasa bersalah karena telah ceroboh. Jadi dua-dua nya enggak mau ikut snorkeling so kami membiarkan mereka berdua menikmati kesedihannya, dan akan kembali lagi nanti sore untuk menjemput mereka berdua di Pulau Tinabo.

[Jadi teman-teman, hati-hati apabila menggunakan tongsis atau tongkat narsis kalau ingin menggunakan kamera dari hape ya, make sure bahwa tongsis yang digunakan itu kuat dan ketat, tidak longgar yang bisa menyebabkan hape lepas dan jatuh atau tercebur ke laut.]

The Snorkeling and The Bebeque alias Bebek

Snorkeling di sekitar Pulau Tinabo ini menyenangkan sekali. Disamping tempat dan koral nya lumayan bagus, kali ini kita berenang dan main di laut dengan dua bebek yang dibawa oleh mas beb dan beb Eropah juga Ratu Sarah ke Takabonerate. Satu persatu kami antri untuk photo duduk di atas bebek dan tiba giliran saya aja dooong. 

Photo shoot di atas bebek raksasa ini emang luar biasa effortnya deh. Pertama, bawa dari Jakarta nya aja udah rempong, secara barangnya cukup gede dan 3Kg sendiri cyyynn… kalau sebelumnya kami semangat banget mompa si bebek dengan penuh suka cita, sore ini pada males mompa. Para lelaki mendadak (pura-pura sibuk) dan pada kabur entah kemana, sehingga akhirnya si bebek dicuekin, sampe akhirnya mas beb dan budhi turun tangan dan memompa itu bebek hingga menjadi besar dan padat sempurna. Kedua, si bebek harus diturunin pelan-pelan, di iket pake tali dan dijaga supaya enggak lepas kabur ke tengah laut.  Kami dibantu oleh Daeng Arie yang dengan hati-hati menjaga supaya kami tidak terjatuh dan aman duduk di atas bebek. Daeng Arie akan ngumpet di balik bebek saat photo shoot yang di photoin oleh mas beb Eropah. Ketiga, ketika photo shoot selesai, mbak beb Eropah akan membantu menarik si bebek kembali ke kapal untuk dipake ke orang berikutnya. Niat banget kaaaaann ? haha. Tapi lihat dong hasilnya, worth the effort as it became one of our  master piece photo ever!

Salah satu peserta yang ikut trip takabonerate ini (sebut saja dia Ella ) yang ketika naek bebek, si bebek terlihat oleng, goyang kiri kanan, terbalik dan dalam hitungan detik, byuuuurrrrr Ella masuk ke laut! Saat itu juga Daeng Ari langsung menarik Ella ke atas dan tak lama kemudian Ella kembali muncul di permukaan.  Emang sih Ella nya selamat, tetep aja saya tahan napas liatnya. Ngilu ngebayangin orang nggak bisa berenang dan jatoh ke laut. Konon kabarnya itu hasil di isengin Daeng rie, dimana tali bebeknya di tarik menjauh ke laut sehingga orang yang naek kehilangan keseimbangan dan jatuh. Mudah-mudahanan ini berita nggak bener ya, karena menurut saya nggak lucu banget kalau pesertanya sampe shock beneran, and you don’t want to make fun of life, kalau nanti tenggelam beneran, gimana coba? You’re talking about other people’s life. Iyesssss?

[Melaut harus bisa berenang? Enggak juga sik. Kan ada life jacket alias pelampung. Aman dan nyaman. Hanya saja emang harus punya nyali dan daya tahan tubuh yg luar biasa, secara akan berada di udara yg amat sangat panas, kemudian berbasah-basah ria selama berjam-jam dan berangin-angin setelah itu. Tapi wajib hukumnya harus ada pantia/penyelenggara yang emang jago renang, so bisa jadi team penyelamat yang fungsinya menjaga peserta selama acara. Jadi, kalau kalian emang suka laut dan enggak bisa berenang, jangan lupa kasih tau ke panitia/penyelenggaranya, terus cari tau siapa aja temen/pasangan/panitia yang bisa berenang supaya kalian jangan jauh-jauh dari mereka. Owkay?]

Tragedy Bebek Lepas

Setelah puas photo-photo dengan bebek, sebagian dari kami merapat ke pantai dan photo-photo di atas puncak yang terjal penuh karang. Karena saya mulai merasa enggak enak badan, saya memilih untuk nunggu aja di kapal. Lagi tenang-tenang nya tidur-tiduran, eh terjadi huru hara. Ternyata bebek raksasanya Ratu yang berwarna pink itu talinya lepas dan terseret ke tengah laut. Makin lama itu bebek makin jauh. Tak lama kemudian, Daeng Rafli, Daeng Arie, Fadel dan Habibie pun berlomba-lomba berenang ke tengah laut mengejar si bebek nakal tersebut. Makin mereka memacu kecepatan renangnya, makin cepat juga si bebek ngacir ke tengah laut, sampe kami yang Cuma bisa liat aja merasa kasian sama para lelaki yang dengan sekuat tenaga berusaha mengejar si bebek genit tersebut. Dalam waktu sekitar 30 menit, akhirnya si bebek yang doyan cari perhatian ini bisa di tangkep, di dorong balik ke kapal dan di hukum dengan cara di ikat ke kapal. Rasanya saat itu juga saya langsung pengen jadi bebek, biar di kejar kejar para lelaki juga, hahaha.

Selesai snorkeling dan photo-photo di karang, kami semua kembali ke kapal untuk menjemput Mega dan Maria di Pulau Tinabo. Tadinya mau sunset-an di Pulau Tinabo, tapi sayang sekali saat itu mendung dan kami pun kemudian berlayar kembali ke penginapan di Pulau Jinato. Otw back, kami makan indomie di atas kapal. Nikmat sekali! Selain yang masaknya adalah chef kondang mas beb eropah yang terkenal dengan indomie rebus rawitnya yang kalau kata si manusia putih bersih Ali - endesss endolita, kami makan nya duduk meriung lesehan makan pake tangan dan makan rebutan macam pengungsi dari Vietnam. Seru banget deh!

Sekitar 2 jam kemudian kami tiba kembali di penginapan di Pulau Jinato. Tadinya sih, saya ngarep ada cowok-cowok karang taruna yang akan ikut menyemaraki makam malam di penginapan kami. Lumayan laaah, ada yang biasa diliat selain (lagi-lagi) Habibi dan Ale yang kelakuan nya ajib dan ajaib, hehe. Tapi apa daya menurut si ibu istri Kepala Desa, di kampung tersebut anak-anak muda nya yang udah menjelang dewasa udah pada pergi melanjutkan sekolah tingkat atas atau pergi merantau cari kerja ke luar pulau, jadi tinggal ibu-ibu, orang-orang tua dan anak-anak saja yang masih tinggal di desa. Setelah makan malam, acara dilanjutkan dengan acara ramah tamah BPJ.

Ramah Tamah BPJ.

Apa sih acara ramah tamah BPJ itu? Itu looh, semacam silaturahmi untuk saling mengenal peserta, mengingatkan rules and regulations, do and don’t suatu perjalanan. 

Di acara ramah tamah yang dilakukan setelah makan malam ini, Daeng Rafli sebagai CP memperkenalkan diri nya beserta dua CP lain, Aga dan Ale, CP pengganti Tari CP ter-kensel (hehe peace kak Tari). Para peserta trip Takabonerate ini memperkenalkan dirinya masing-masing. Selain menyebutkan nama dan bagaimana mereka mulai mengenal komunitas BPJ ini, bahasan kemudian dilanjutkan dengan beberapa himbauan. Ternyata ada sepasang peserta yang ikut acara BPJ, sebut saja dia Mawar dan Duri yang dari awal perjalanan terus aja peluk-pelukan dan ciuman sepanjang perjalanan. Hal ini membuat beberapa teman seperjalanan menjadi risih dan membuat bapak Kepala Desa menyampaikan keberatan beliau terhadap tingkah laku yang kurang pantas dilakukan di umum. So CP menghimbau agar sebagai peserta BPJ kami harus menjadi tingkah laku kami. Kemudian Daeng juga mengingatkan kami semua untuk tidak membuang sampah sembarangan, karena sempat melihat beberapa peserta yang memang membuang sampah ke laut. Biarpun menurut sang peserta bahwa sampah yang di buang adalah sampah organik yang pastinya akan menjadi hancur dan lebur bersama air, tetap aja sampah itu sebaiknya di buang di tempat sampah atau di tempat yang disediakan.

Lalu Daeng juga ngebahas masalah makanan, ada kasus dimana peserta yang sudah pesan makanan “spesial” tidak bisa menemukan makanan nya - dikarenakan orang lain yang tidak pesan makanan atau orang lain yang sudah pesan makanan “biasa” memakan jatah makan “spesial” tersebut. FYI, makanan “spesial” adalah makanan non ikan, yaitu berbagai makanan selain ikan seperti daging, ayam, telur dadar, bakwan dll dsb yang emang sengaja di pesan dan dibayar oleh teman-teman yang emang alergi atau tidak bisa/tidak suka makan ikan. Intinya, peserta diminta untuk tahu diri, untuk tidak memakan yang bukan hak/jatah nya.

Kemudian ramah tamah dilanjutkan dengan permintaan maaf salah satu peserta salah satu peserta, sebut saja dia Abang, kepada salah satu peserta lainnya dikarenakan telah lancang untuk makan roti nya tanpa ijin. 

Abang bilang, dia menemukan sebuah kotak roti yang tergelatak begitu saja dari pagi hingga sore dan dia sudah bertanya ke banyak orang mengenai kepemilikan roti tersebut. Karena nggak ada yang tau/ngaku punya siapa roti itu, akhirnya Abang makan roti tersebut. Agak sorean kemudian, si pemilik roti (yang ternyata adalah si Duri tukang ciuman itu) kemudian muncul dan menanyakan roti nya yang hilang, dan dia sangat marah dan emosi ketika tau rotinya di makan tanpa seijin dia, sampe menganggap bahwa si abang adalah “maling”. Abangpun minta maaf dan segera nitip roti pengganti kepada Ayiek, peserta yang nyusul berangkat ke Selayar untuk membeli roti yang sama sebagai pengganti roti yang udah dia makan. 

Salut sama Abang, dia tau dia salah, dan biarpun dia udah meminta maaf langsung ke si pemilik roti, dia juga meminta maaf sekali lagi di depan semua orang. It is NOT easy to apologize for your mistake in front of everyone, and he did it. He has a big heart indeed. Tapi saya muak melihat kelakuan si Duri tersebut. Pertama, kalau ikut sharing trip dan makanan nya nggak mau di share atau di bagi ke orang lain, seharusnya makanan tersebut di simpan atau di tas sendiri, jangan di geletakin begitu aja. Atau dia bisa kasih tau ke orang lain kalau makanan tersebut adalah makanan pribadi - yang emang karena satu dan lain hal enggak mau dibagi - which is fine with everyone else. Tapi kayaknya enggak perlu segitu noraknya teriakin orang maling untuk sesuatu hal yang sebenernya bisa dibilangin baik-baik aja sik, jadi enggak perlu pake drama. Mungkin si Duri itu kurang banyak temen atau kurang jauh pikniknya, sehingga dia kurang bisa bergaul dan kurang bisa menempatkan ucapan dan tingkah lakunya dalam suatu situasi dan kondisi. 

Note, tips and leasson learned  bagi semua peserta di trip manapun, di komunitas apapun juga , untuk hal-hal berikut ini :

-          Apabila ada peserta yang ikut dalam suatu perjalanan, sebaiknya memang tidak melakukan hal-hal yang tidak enak di lihat dan tidak patut di lakukan. I mean, kita semua harusnya mengerti bahwa acara dan kegiatan ini dilakukan bersama suatu komunitas tentu saja membawa nama komunitas, sehingga sewajarnya peserta harus bisa menjaga diri dan kelakuan yang nanti imbassnya akan ke kembali ke komunitas itu sendiri.
-          Single maupun married couple, jangan pernah memperlihatkan kemesraan yang berlebihan dalam suatu perjalanan bersama komunitas (ciuman, pelukan etc), apalagi apabila ada tokoh agama/tokoh setempat yang dihormati.
-          Jangan pernah buang sampah sembarangan, dimanapun kita berada dan bepergian
-          Jangan pernah mengambil yang bukan hak nya. Kalau memang tidak pesan makanan jangan ikutan makan (kecuali mau bayar juga)
-          Apabila pesan makanan biasa, jangan ambil pesanan “spesial”. Karena makanan spesial emang sengaja dipesan untuk orang-orang yang makan nya emang menu khusus.
-          Harus minta ijin terlebih dahulu untuk makan/ambil sesuatu yang bukan miliknya
-          Enggak harus drama kalau ada suatu kasus. Kalau ada masalah di perjalanan, bisa di omongin baik-baik.
-          Meminta maaf untuk suatu kesalahan (baik disengaja atau tidak) adalah tindakan yang baik dan terpuji. 

At the end of the day, saya jadi inget ucapan almarhum ayah saya, kadang hidup emang perlu drama, to make life more colorful. Kalau semuanya lurus-lurus aja dan baik-baik aja, life would be so bloody boring! And yeah, kejadian dangdut tersebut akhirnya menjadi bahasan kami selama dan setelah perjalanan berlangsung, sebagai self reminder aja untuk masing-masing individu menjadi manusia yang lebih baik lagi di ke depannya.

Ramah tamah kemudian di tutup dan di akhiri dengan tidur basamo. Saya enggak bisa tidur. Karena punggung masih sakit, kamar panas banget enggak ada udara, plus semut-semut berjatuhan dari langit-langit. Dua room mate saya Mbak Tati dan Nita juga nggak tahan panas sehingga akhirnya memilih untuk tidur di luar. Saya tetap bertahan di kamar sampe akhirnya capek sendiri dan ketiduran. 


Day 4, Jum’at 22 Sep 2017

Pagi-pagi saya bangun dan sarapan. Saya lihat teman-teman yang sudah bangun lebih pagi sudah balik dari melihat sunrise, udah selesai Yoga di pinggir pantai, udah photo-photo di pantai Pulau Jinato, bahkan sudah jalan-jalan dengan motor gerobak yang disetiri oleh Mas beb Eropah. Sumpe deh mas beb Eropah ini, hobby nya selain traktir orang, jago masak, bisa nyetir motor dan mobil, juragan duren pulak! Idola semua ummat dah nih mas-mas! Anyway sementara Daeng Rafli sibuk mengurus penjemputan Ayiek, salah satu peserta yang tertinggal pesawat ke Selayar dan rupanya menyusul ke Pulau Jinato dengan perahu kapal kecil. Salut deh, niat banget nyusul di hari ke 4 yang sebenarnya udah tanggung karena acara udah hampir selesai. But hey, life is all about choices and she has made her decision to join the trip, even for the last few days only. Beberapa teman tampak menemani Ayiek photo-photo sementara yang lain nya pergi snorkeling. Karena snorkeling di Pulau Jianto biasa aja, kami kembali ke penginapan dengan cepat, untuk packing dan siap-siap check out. 

Departure Jinato – Selayar

Pukul 13.00 siang, kami pamit kepada bapak Kepala Desa dan seluruh warga disana sekaligus berterima kasih atas keramah-tamahan mereka, kemudian naek ke kapal dan berlayar kembali ke Selayar. 

Perjalanan ke Selayar juga lamaaaaa banget. Kayanya nggak nyampe-nyampe. Tapi biarpun lama, kami memanfaatkan waktu di jalan untuk main kartu, joget-joget nggak jelas, makan, main games atau tidur. Banyak photo photo aib disini, di capture saat kami lagi tidur dengan berbagai mulut lagi mangap lebar. Selain itu banyak video-video joget joget seru yang dilakukan oleh teman-teman peserta untuk menghabiskan waktu.

Sekitar pukul 19.00 malam kami tiba kembali di Pulau Selayar dan menuju ke pelabuhan Benteng di Selayar. Sementara teman-teman yang lain sibuk rebutan kamar di penginapan, sebagian dari kami memilih untuk makan malam terlebih dahulu. Kami makan malam di traktir mas beb Eropah, makan seafood di rumah makan pelabuhan di Selayar. Dikarenakan saya sudah bosan makan nasi selama di Pulau, saya pisah menu, cuma pesan indomie hangat. Makan indomie telur rawit hangat setelah lelah snorkeling itu enak sekaliiiii. Pulang dari makan malam kami diantar mobil sewaan menuju ke penginapan. Yang cewek tidur di satu kamar di lantai bawah dan di dua kamar di lantai atas, sementara yang cowok-cowok tergeletak dimana aja. Di ruang tengah, ruang tamu, bahkan di teras. 

Kemudian saya antri untuk menggunakan kamar mandi. Tapi antri untuk mandi di kamar mandi itu lamaaaa banget. Bayangin aja, kamar mandi cuma dua, tapi yang antri mandi atau menggunakan kamar mandi ada 33 orang, di saat-saat lelah seperti ini, jadi nggak sabaran, so I skipped shower that night, cuma ganti baju aja dan mencoba tidur. Tapi tidur di kamar panasnya bukan main, so saya akhirnya milih untuk tidur di luar kamar bersama teman-teman lain yang tidur di atas karpet di ruang tamu. Sayangnya, biarpun udah ngobrol panjag lebar sama Susan, Ale, Aga dan Vega, saya tetep enggak bisa tidur. Sampe jam 3 pagi mata saya masih melek. Baru sekitar jam 4 pagi saya bisa tertidur. Itu pun jam 6 pagi udah kebangun lagi dikarenakan aktifitas para peserta yang pagi-pagi udah bangun dan jalan ke pasar cari sarapan.


Day 5, Sabtu 23 Sep 2017.

Bangun pagi, Lulu, Windy dan Vinnie dan Ziza tampak sudah jalan-jalan ke pasar setempat untuk jajan berbagai jenis kue tradisional buatan setempat. Saya? Tetep tidur dooong, sambil nunggu sarapan yang dititip tiba. Selesai sarapan, kami berangkat snorkeling. Oh iya, di Pulau Selayar ini, pasangan Mawar berDuri pamit memisahkan diri dengan group. Mereka tidak nyaman bepergian dengan gaya backpacking yang serba minimalis, so we have to respect their decision. Lebih baik tidak memaksakan diri untuk bertahan di suatu trip apabila memang sudah tidak merasa nyaman.
Anyhow sekitar pukul 08.00 pagi kami berangkat menuju pelabuhan Benteng dan dari sana kami naik kapal untuk menuju ke Pulau Bahuluang.  Perjalanan dari pelbuhan Benteng di Jinato ke pantai Bahuluang itu panjaaanng dan lamaaaa sekali. Kali ini tidak pakai nyasar tapi rasanya sangat membosankan karena membuang waktu sekitar 3-4 jam. Dan tiba disana ternyata pantainya biasa banget. Cuma pasir putih memanjang ditengah laut. Zonk. Tapi nggak kecewa, paling tidak enggak penasaran banget mengenai tempat ini karena udah lihat secara langsung.

Beberapa dari kami berenang dari kapal ke pantai yang jaraknya sekitar 200 meter. Mendekati pantai, banyak rumput laut yang panjang-panjang dan tebal-tebal. Geli dan ngeri liatnya. Takut ada bulu babi yang tak terlihat yang berada di balik rumput laut. Seputar pasir itu banyak batu dan karang tajam. Kaki saya sakit saat menginjak pasir berbatu karang disana. Tapi berada di sana sangat menyenangkan. Kami semua membentuk formasi dan berkali-kali di photo oleh beberapa teman yang emang enggak ikut berenang di pantai, hanya duduk aja di atas kapal dan memotret kami. Mulai dari gaya mermaid sampe photo andalan sejuta ummat - yaitu photo loncat-loncat di atas pasir kami lakukan. Asik !

Pulang dari sana kami mampir lagi ke sebuah pantai berkarang (lupa nama pantainya apa) yang sumpah karangnya selain tajam-tajam, tinggi-tinggi. Saya malas turun, udah terlalu lelah, tapi peserta lainnya tetap turun dan menunggu matahari terbenam untuk dinikmati. So I spent the rest of the day sleeping, dan saya masih tidur hingga kami kembali ke Selayar. Saya beberapa kali terbangun karena kedinginan. Yes, efek-efek manula, lupa bawa baju ganti atau handuk kimono yang biasa saya bawa untuk menghangatkan badan sehabis snorkeling. Jangan ditiru yaaa!
Sekitar pukul 21.00 malam kami tiba kembali di Pulau Selayar, turun di pelabuhan Benteng. Sementara yang lainnya  langsung ke penginapan, saya ditemani mbak Tati makan malam nasi goreng di warung makan pelabuhan bersama beberapa teman BPJ lainnya, Windy dan Vinnie. Mungkin karena malam sebelumnya saya udah begadang sampe pagi, lalu telat makan, terus main air seharian, berjemur seharian, tidur dengan pakaian basah, plus punggung juga lagi cedera, masuk angin, so saya muntah-muntah dan badan agak panas alias demam. Karena ingin isitirahat total, saya memutuskan untuk menginap di penginapan terpisah supaya bisa tidur nyenyak dan tidak harus antri ke kamar mandi pagi-pagi. So setelah puas makan, saya ditemani oleh CP Daeng Rafli cari hotel di sekitar home stay kami naek motor.

Kami mampir di hotel terdekat. Tapi untuk ukuran hotel lama yang ruangan nya kecil, harganya mahal banget, 550 ribu/malam. Saya males nginep disana. Nggak rela rasanya bayar semahal itu untuk tidur hanya beberapa jam saja. Akhirnya setelah bertanya-tanya kesana kemari, saya memutuskan untuk menginap di homestay yang sama dengan Sari dan Bayu, couple yang memisahkan diri dengan kami 1 hari sebelumnya. Harga kamarnya 300 ribu, tapi sudahlah, sudah terlalu malam, sudah terlalu capek dan terlalu keliyengan untuk cari penginapan lain.

Saya dikasih obat pereda panas oleh Bayu dan setelah minum obat, saya mandi dengan air hangat dan tidur. Tidur di kamar sendiri, kamar mandi sendiri, tempat tidur spring bed dan AC memang jauh lebih nyaman, apalagi dalam kondisi badan lagi tidak fit. Backpacking indeed a good way to learn to appreciate life. Membuat kita bersyukur dengan sesuatu atau keadaan yang lebih baik.
[Tapi intinya sih, kalau udah tau sebelum berangkat badan dalam keadaan letih, lelah, cedera atau lagi tidak fit, sebaiknya emang tidak memaksakan diri untuk ikut karena ending endingnya hanya akan menyusahkan diri sendiri dan menyusahkan orang lain, dan juga tidak akan menikmati perjalanan nya secara maksimal.]


Day-6, Minggu 24 Sep 2017

Departure Selayar – Makassar

Setelah minum obat tadi malem, ke esokan paginya saya bangun dan mandi air hangat, saya merasa jauh lebih baik dan lebih segar.(Makasih untuk obatnya ya Bayu). Jam 07.00 pagi saya dijemput oleh one lovely couple - pecinta lari, Irena dan Budhi, juga Nita sang master Yoga dan Ayiek si anak hilang-lalu langsung berangkat menuju bandara udara Selayar. Tadinya kepikiran mau mampir di 1-2 tempat dulu menjelang ke bandara, tapi dikarenakan keterbasan waktu, kami terpaksa harus langsung menuju bandara karena pesawat kami take off ke Makassar pukul 09.55 pagi. 

Tiba di Makassar sekitar pukul 12 siang,kami juga menyempatkan diri untuk makan bakso terkenal di Makassar yang namanya Ati Raja dan ternyata mie dan baksonya emang enak! Cucok di lidah eikeh. Selesai makan kami jalan-jalan dulu ke pinggir pantai pantai losari. Lumayan lah bisa photo-photo dikit di pinggir pantainya. Lalu kami lanjut beli oleh-oleh di salah satu toko terbesar disana, toko Indonesia namanya, dan membeli kain-kain makassar yang saat itu di obral murah banget karena ngabisin stock. Kain-kain songket/set udah termasuk, clutch dan tempat lipstick dijual Cuma 100 ribu ajaaahh !!! What a bargain. Langsung doong, saya beliin buat kakak dan adik ipar saya yang semuanya cewek. Selesai belanja kami semua kembali ke bandara dan sempet juga beli kue khas Makassar yang katanya punya Irfan Hakim, and yeah, bawaan saya jadi nambah, dari 1 ransel dan 1 tas selempang, menjadi beranak dengan beberapa kardus  tambahan isi oleh-oleh ditangan .

Departure Makassar – Jakarta

Pesawat kami take off pada pukul 17.45 sore dan saya tiba di rumah hari Minggu malam sekitar pukul 22.00 malam dalam kondisi badan ambruk keliyengan. Tapi sayangnya saya belom bisa istirahat. Saya harus packing lagi selama 2 jam untuk acara kantor di Surabaya, Gresik, dan Bangkalan Madura. I was almost dead by midnite, but I slept with a very big smile on my face. This week I had made new friends, I had visited new places and I had learned so much new things in life. Alhamdulillah. Menyempatkan diri sejenak untuk bersyukur pada illahi untuk segala rejeki, to feel blessed to experience what others couldn’t.

Terima kasih teman2 BPJ alumni Takabonerate, CP dan semua peserta. Love you guys!


Note, Tips and Lesson Learned :

Sharing Cost Trip

Untuk semua trip backpacker Jakarta (BPJ), system yang digunakan adalah sharing cost trip alias patungan tapi biasanya biaya tersebut hanya biaya trip (transportasi lokal seperti bus, ferry atau kapal boat buat island hopping) termasuk penginapan dan makanan standard. Tapi apabila ada yang merasa nggak nyaman tidur rame-rame (misalnya), bisa nginep di tempat lain, bebas-bebas aja, enggak masalah dan diperbolehkan oleh CP nya-asal kasih kabar dan alasan. Tapi berarti nilai kebersamaan nya berkurang karena pisah rumah berarti nggak bisa interaksi dengan semua peserta.

Trip sharing cost biasanya harganya jauh lebih murah daripada ikut trip organizer independent. Tapi fasilitas yang ditawarkan juga disesuaikan dengan budget yang di sharing alias very limited. So please do not expect any privacy karena biasanya emang sharing rame-rame untuk transportasi dan akomodasi alias penginapan. Total biaya dibagi rata semua peserta tapi biasanya biaya tidak termasuk tiket pesawat terbang atau biaya jajan dan extra makan yang ditanggung oleh masing-masing peserta. Suka duka semua ditanggung bersama, so no complaining, apalagi karena kadang-kadang karena situasi dan kondisi yang tidak memungkinkan, itinerary dan program bisa berubah-ubah setiap waktu.

Oh ya, semua trip yang ditawarkan BPJ itu cepet sekali sold out seatnya, jadi misalnya baru di lempar di group2 BPJ (yang biasa disebut RT), dan biasanya habis dalam tempo sesingkat-singkatnya. Jadi kalau mau ikut trip BPJ dan dapetin seatnya, kita harus langsung daftar dan transfer DP nya. Dan bayarnya itu bisa dicicil dua sampe tiga kali looh, asik banget! Setelah kita daftar dan bayar DP, biasanya kita akan di invite masuk ke dalam group perjalanan tersebut karena di group tersebut kita akan berkenalan dengan calon teman seperjalanan kita dan CP akan berbagi informasi seputar persiapan perjalanan. So better add instagram nya BPJ @backpackerjakarta atau join facebooknya Backpacker Jakarta.


Tiket pesawat.

Anyhow, dari informasi yang saya dapatkan dari salah satu teman yang baru kenal di group, Susan, saya mendapatkan informasi bahwa kalau kita beli tiket pesawat dari airyroom (www.airyroom.com), kita bisa mendapatkan diskon harga tiket sampai dengan Rp 300,000. Dan inilah salah satu alasan yang bikin saya suka bergabung dalam satu group traveling, biasanya member nya saling berbagi informasi seputar dunia traveling, apalagi harga-harga murah, haha.

Untuk return ticket Makassar – Jakarta, dengan menggunakan diskon tiket promo dari airy rioom, saya mendapatkan harga tiket pesawat hanya Rp 500,000 dari harga biasa Rp 1,000,000.

Bagi yang belum tau mengenai airyroom, ini adalah aplikasi baru semacam tiket.com atau traveloka.com dimana kita bisa mencari tiket pesawat atau penginapan di berbagai kota di Indonesia yang harganya sangat terjangkau (baca:murah). Untuk penginapan, biasanya  airyroom bekerjasama dengan berbagai hotel bintang hingga hotel melati, dimana selain harga yang ditawarkan airyroom itu jauh dibawah published rate atau harga umum, hotelnya juga menjangkau ke pelosok-pelosok daerah yang mungkin tidak terjangku oleh internet. Jadi tinggal ketik www.airyroom.com, pilih lokasi, tanggal dan sortir dengan harga termurah, maka airyroom akan memberikan daftar tempat-tempat sesuai yang kita mau. Tapi untuk mendapatkan harga murah di promo-promo tertentu, hanya bisa dilakuakn melalui aplikasi yang harus di download dari HP.


Perlengkapan

Dikarenakan trip ini adalah perjalanan menjelajah pulau-pulau dan pantai-pantai, maka otomatis semua keperluan wajib untuk perjalanan yang berhubungan dengan jalan-jalan pantai harus disiapkan, seperti sandal pantai, hammock, topi, kacamata hitam, dan tentunya sunblock. Selain bawa handuk toiletteries, pakaian ganti dan pakaian dalam juga perlengkapan ibadah, kalau mau eksis total, bawa juga propert photo seperti topi pantai, syal, selendang, payung cantik, ban renang, dll dsb.

Kalau kaki kita ukuran nya terlalu kecil atau terlalu besar dari ukuran rata-rata, disarankan agar membawa alat-alat snorkeling (fins, mask and snorkel) karena nggak  semua tempat menyediakan perlengkapan snorkeling dengan ukuran muka dan kaki kita.

Kalau punya penyakit khusus, jangan lupa selain P3K bisa bawa obat-obatan khususnya seperti obat alergi, obat asma, dll dsb.

Kalau bawaan nya laperan melulu seperti saya dan Nita, jangan lupa bawa banyak makanan ringan / snack. Karena kegiatan snorkeling setiap hari emang bikin lelah.

Kalau suka yoga seperti saya dan Nita, jangan lupa bawa matras yoga sehinga bisa melalukan kegiatan yoga setelah sunrise maupun menjelang sunset.


New Family.

Salah satu keuntungan ikut suatu trip perjalanan suatu komunitas adalah, selain mendapatkan banyak teman baru, kita juga mendapatkan keluarga baru. Emang sih cocok-cocokan, karena tidak semua pertemanan di sebuah trip berakhir happy ending. Tapi tidak dengan peserta trip BPJ Takabonerate. Setelah perjalanan selesai, tidak seperti group lain yang begitu perjalanan usai dan groupnya bubar, group kami tetap ramai 24 jam. Semua di bahas dan semua di omongin, selain membahas perjalanan wisata, lanjut ke percakapan dan diskusi politik, ekonomi, budaya, sampe video XXX segala dibahas. And oh, tidak lupa bahasan kuliner dan kosmetik beserta aksesori nya yang menemani hari hari saya setiap harinya. Group ini juga sering ngadain kopdar alias kopi darat dan pertemuan rutin setelah trip berakhir. Mulai dari karaoke dan makan duren basamo, hingga nginep di hotel bintang lima gratis, nginep di villa pucnak gratis sampai rencana ketemuan dan rencana trip berikutnya. You will never felt alone! 

So what are you wating for? Segera gabung dengan komunitas Backpacker Jakarta alias BPJ dan jelajah Indonesia bersama mereka!

Sekian.

Jakarta, 11 November 2017. Written by Deedee Caniago.

Catatan perjalanan Takabonerate ini saya persembahkan untuk teman-teman alumni BPJ-Takabonerate. You guys rock!